Mengenang Kalian Teman-teman M2M Part 1


Tanpa disadari, terkadang kita suka melamun mengingat masa lalu, baik sengaja maupun tidak sengaja. Mengingat kejadian kemarin, seminggu lalu, satu bulan lalu, setahun lalu, tiga tahun lalu, dan seterusnya. Bertemu dengan banyak orang, kerabat, saudara, kekasih, anak, dan sebagainya. Memang kita bisa berjumpa dengan orang-orang yang sudah kita jumpa, namun kejadian tidak akan bisa terulang lagi.
Karena sifat makhluk hidup terutama manusia memiliki sifat dinamis, yakni berubah-ubah dan tidak tetap (statis). Karena ketidaktetapan itulah manusia selalu berubah dari waktu ke waktu dengan berlandaskan faktor lingkungan, bergaul, serta bagaimana ia bisa memposisikan dirinya dengan baik dan benar. Postingan kali ini, gue buat dari hasil berkontemplasi (bahasa Arab: tafakur/ bahasa Indonesia: merenung).
Setelah berkontemplasi, gue baru meyakini bahwa gue sudah ada di Bandung/ Padalarang. Sedangkan teman-teman gue tetap di Jakarta, bahkan tidak sedikit mereka ada yang satu kampus. Tapi ada juga teman gue yang pindah ke Jawa Timur, bahkan ada yang ke benua Eropa. Hal lain yang tak kalah ‘sadis’ salah satu teman masa SD ada yang sudah menikah dan sekarang telah dikaruniai satu anak. Pada saat mendengar kabar mengejutkan tersebut gue kaget, masih muda tapi sudah punya anak. Sepertinya teman gue tersebut mengusung prinsip “banyak anak banyak rezeki, semakin banyak dapat rezeki nomplok.” Gue sendiri mengusung prinsip “semakin mapan semakin tampan, menawan, dan dermawan.” Namun kemapanan tidak bisa didapatkan begitu saja, kita harus mau belajar, berdoa, dan beramal shaleh. Insya Allah.
Mungkin nama teman-teman gue dulu akan tetap sama, tapi dari sisi sikap, perilaku, penampilan, gaya hidup, dan sebagainya dipastikan berubah. Gue suka berpikir “Gimana ya sekarang mereka?” “Apa udah sukses? atau malah melarat?” “Udah punya bini? atau malah jadi duda/janda?” Ingin gue suatu saat nanti dipertemukan sama teman-teman gue dulu, dimulai dari waktu SD sampai SMK. Sepertinya akan sangat lucu dimana kita dulu masih bocah, sering usil, sering ngatain, sering menyebut nama kita dengan nama orangtua kita. Lalu bertemu kembali dengan perubahan pola pikir orang-orang dewasa pada umumnya. Lucu sekali apabila bertemu kembali, tapi masih tetap memanggil kita dengan nama orangtua kita. Semisal namanya Andre tapi dipanggil Jono, karena orangtua Andre kembarannya Lono, Jono dan Lono.
Gue ingin mendeskripsikan tingkah laku, identitas diri, serta hal-hal konyol dari teman-teman semasa SMK. Pengennya sih dari teman-teman semasa SD sampai SMK, tapi dikarenakan gue lupa sama orang-orangnya jadi yang akan gue deskripsikan adalah teman-teman semasa SMK saja. Di sisi lain dari tiga masa SD, SMP, dan SMK (gue gak pernah masuk TK) yang paling seru itu ya masa-masa SMK. Mereka sudah gue anggap laksana saudara, saudara jauh tapinya. Awalnya gue gak nyangka dapat teman-teman seseru mereka, tapi gak tahunya mereka ‘ajiiib’. Langsung saja dimulai dari abjad paling pertama yaitu A, serta disesuaikan nomor urut absen. Check it out everybody!
1.      Ahmad Mudzakir Salim
Dipanggil Zakir, terkadang sama teman-teman diplesetkan menjadi ‘Zakar’ (dari bahasa Arab yang artinya: kantung penis). Lebih pantas disebut dan ditujukan untuk kemaluan unta, terutama kemaluan unta yang ‘big tits’. Kalau gue sering memanggilnya ‘kir gobang gocir’. Sebenarnya Zakir bukan asli didikan M2M (Multimedia 2), dia asli didikan MM1 (Multimedia1). Ia dideportasi dari MM1 oleh pihak sekolah dan dibarter dengan Danang Wahyu Jati (lihat nomor 11). Alasan pihak sekolah membarter mereka berdua dikarenakan pihak sekolah ingin mereka berdua belajar lebih giat dengan tidak ada ‘konco-konconya’ di sisi mereka.
Zakir dan Bagus terpilih sebagai Best Couple versi cowok. Mereka berdua terlihat seperti Maho. Sumber: foto angket kelas M2M

Jadi, kasarnya mereka diasingkan untuk masa depan mereka yang lebih cerah, secerah petromak tukang nasi goreng. Awalnya gue menganggap Zakir sebagai pribadi yang tidak ramah. Namun, namanya juga persepsi, ternyata ia have fun dan cepat membaur bersama teman-teman M2M lainnya. Keunikan dari Zakir adalah rambutnya yang selalu klimis alias selalu basah. Lalu sikap berjalannya yang agak ngangkang dan agak sotoy. Kebetulan gue pernah sekelompok sama Zakir, waktu itu kita sekelompok untuk mengerjakan tugas wawancara, dan alhamdulillah lancar jaya.
2.      Ahmad Rievan Gifari
Teman yang satu ini sudah gue anggap sebagai sobat dekat. Gifari tetap dipanggil gifari di kalangan siswa pada umumnya, tapi ada juga yang memanggil sebutan ‘ndut’ karena badannya memang sedikit gempal. Rata-rata setiap siswa memanggilnya ‘gif’ kalau gue ‘ri’. Karena menurut gue ‘ri’ lebih cocok dipakai di mulut gue. Kalau manggil ‘gif’ kesannya agak capek. Contoh:
“Ri ri mau kemana ri?” daripada:
“Gif gif mau kemana gif, oh iya gif gue minta gif (gambar bergerak) dong gif?” kesannya capek dan membingungkan.
Gifari dan Diana berhasil meraih predikat Best Couple versi Pasangan. Sumber: foto angket kelas M2M

Gifari ini doyan makan, jago gambar, jago bikin karakter, dan lumayan pintar. Tapi kadang-kadang kalau ada orang sedang membicarakan sesuatu, si Gifari ini suka nimbrung. Sesekali pada saat gue sedang ngobrol sama teman lain, dia datang lalu bilang “Oh iya gitu jat,” “Iya jat gitu.” sambil nepuk pundak gue. Padahal dianya mah nggak tahu apa-apa. Idolanya yang gue tahu adalah Taeyang Bigbang, kita pernah membuat sebuah video parodi Tonight-nya Bigbang. Tapi mungkin video parodi tersebut sudah dicekal demi masa depan anak-anak harapan bangsa. Ia juga pernah berpacaran sama Diana Fadira (lihat nomor 13) selama beberapa tahun, tapi akhirnya kandas juga (gak tahu kalau sekarang). Saat ini ia sedang menempuh studi di Universitas Mercubuana mengambil jurusan desain produk, bersama teman-teman yang lain.
3.      Alfado Adhar Rotikan
Pertama kali gue melihat Alfado adalah waktu MOS (Masa Orientasi Siswa) pada saat ia izin karena sudah tidak kuat panas-panasan di lapangan. Tampangnya dari jauh memang mirip Daniel Radcliffe, pemeran utama Harry Potter. Biasa dipanggil Fado oleh rekan-rekan sejawat. Ciri khasnya adalah pria putih agak bogel bermata empat. Jika ia buka kacamatanya, akan sangat berbeda pada saat ia memakai kacamata. Gue suka nebeng jika ia lewat Cilangkap, itu pun gue paksa, karena terbukti lewat Cilangkap memang lebih jauh daripada lewat Arundina. Bisa dibilang Alfado ini adalah murid yang beda dari murid-murid lain, menurut gue. Perbedaannya adalah murid lain memakai baju seragam lengan pendek, sedangkan ia lengan panjang. Ia sangat menjaga privasi hpnya dari jangkauan tangan-tangan usil yang hendak memperawani hpnya.
Si Daniel Radcliffe KW 7 (Alfado) Sedang Memegang Botol Minum di Situs Candi Borobudur
Hal ter-absurd adalah apabila ia kentut, aroma kentutnya akan dihirup olehnya sambil berkata “Kentut gue enak.” Pernah memiliki hubungan spesial dengan Clazara Larasati (lihat nomor 10) tapi yang gue lihat Clazaranya biasa-biasa saja (CMIIW). Gue selalu senang apabila ke kantin sama Alfado, karena tidak jarang gue suka dijajanin (aji mumpung) walaupun hanya segelas air mineral, tapi kan lumayan, hemat Rp.500. Pernah suatu ketika, selagi kita PKL (Praktik Kerja Lapangan) dan kebenaran gue PKL sekelompok sama Alfado, gue ditraktir makan besar ditambah es alpukat. Awalnya gue gak sengaja salah memesan minuman, kirain gue jus alpukat, eh gak tahunya malah sup buah alpukat. Gue heran, kenapa minuman kok gede banget seperti untuk anak genderuwo, dan ternyata itu bukan minuman. Kampret!
Gue berpikir “Wah kalau yang ini gue yang bayar deh.”
Tapi Alfado langsung bilang ke gue “Udah gak apa-apa jat, pesan aja lagi minuman buat lu.”
Mendapat pernyataan seperti itu gue langsung cengengesan kurang ajar. Di satu sisi gak enak sama Alfado, di satu sisi ‘kapan lagi ya gak’. Ia juga tidak senang akan pelajaran matematika, sependapat dengan gue. Ia juga doyan ngakak bersama gue dan teman-teman lain. Ada saja bahan-bahan keisengan untuk meraih ngakak yang sempurna. Misalnya kami pernah mencorat-coret sebuah majalah PKP yang bersampul orang gendut, lalu menyebarkannya ke masjid PKP. Merekam seorang teman dengan handycam lalu meng-upload ke Youtube. Menggunjing seorang guru dengan lelucon-lelucon yang kami anggap lucu. Mengedit foto teman lalu ngakak dengan seronok. Kejadian yang sangat kocak adalah ketika Alfado membuat lelucon dan berkata ke gue:
“Jat gimana ya kalo Pak Dangze dateng ke sini pake baju gatot kaca?”
“Jat bayangin dah kalo Pak Dangze dateng sambil moonwalker, kocak kali ya? kikikiki...”
“Jat gimana ya kalo Pak Dangze ngajar pake kostum kuntilanak, trus datengnya melayang dari lantai bawah? wkwkwkwk.”
“Kaga jat, Pak Dangze ngajar make kolor doang sambil lari sprint, trus pas udah nyampe, dia teriak-teriak sambil mukul murid, wkwkwkwk.”
Pak Dangze (nama disamarkan) adalah salah satu guru di sekolah gue dulu, dan guru tersebut teman Bokap gue juga.
Gue hanya bisa menyengir menahan geli “Ahihihihikk.... ahahahakk..”
Tidak lama kemudian Pak Dangze datang,seketika gue langsung berimajinasi kalau Pak Dangze datang dengan cara melayang dan memakai baju wayang sambil menari-nari di dalam kelas. Cekikikan dari mulut gue pun tak tertahankan. Melihat gue cengengesan di  bangku paling belakang, Pak Dangze menyuruh gue membaca salah satu pembahasan yang terdapat pada buku cetak.
“Coba Faris baca yang anu.” suruh Pak Dangze.

Gue pun membaca, awalnya serius tapi ketika gue melihat sekilas ke samping kanan, si Alfado lagi cengengesan. Imajinasi gue keluar lagi, membayangkan Pak Dangze teriak-teriak di dalam kelas tanpa sebab yang pasti. Soalnya wajah Pak Dangze memang mirip pamannya Boboho, kocak. Pada saat itu juga gue langsung menahan tawa sambil membaca, yang akan terdengar seperti “Bagaimana-na-hahappfftth,” “Apaka-h-hahappfftthh,” “Seperti yang tertera pha-dhaaa-haafftthh.” Pak Dangze lalu menegur gue “Baca yang serius! anaknya Pak Maman gimana sih.” Mungkin pada saat itu teman-teman mengira gue kesambet atau tidak menghormati guru dengan bergumam “Ih si Faris kumatnya dateng lagi.”
Salah satu keahlian Alfado adalah ia jago mencari angle yang pas dalam proses pembuatan film. Ia juga ahli bagaimana kiat pura-pura memukul terlihat seperti memukul benaran. Sangat terobsesi oleh Smack Down/Wrestlemania. Piawai dalam membuat konsep seperti film, video, teater, dan proyek-proyek audio-visual lainnya. Saat ini ia sedang berstudi di Universitas Mercubuana mengambil jurusan broadcasting.
4.      Alif Kurniasyah
Teman gue yang berbadan tambun ini adalah seorang vokalis band (katanya). Sering berkumpul bersama konco-konconya di toilet sekolah. Suaranya agak becek-becek basah. Biasanya mereka berbondong-bondong masuk ke salah satu toilet lalu jongkok sembari merokok ria. Mereka beranggotakan Alif Kurniasyah, Fadel Muhammad (lihat nomor 15), Febrilianto Ardi (lihat no 19), Danang Wahyu Jati (lihat nomor 11), Arif (Kelas Akuntansi), Aban Goben (MM1), serta tidak jarang Mudzakir (lihat nomor 1).
Alif dan Rose memenangi gelar murid Tergalau. Sumber: foto angket kelas M2M
Alif ini kalau sudah ketawa lumayan kocak, bisa diajak ngakak bareng, dan easy going. Semasa sekolah dulu Alif sebangku sama Andika Hermawan di barisan paling belakang. Kadang-kadang ketika pagi hari di sekolah ia sering menutupkan wajahnya dengan jaket karena mengantuk sambil berkata: “Oy jat..” lalu menutup wajahnya kembali.
5.      Almira Larissa Aras
Teman-teman memanggilnya Ica, namun lama kelamaan dipanggil Padang, karena ia berasal dari Padang. Untungnya gak dipanggil Uda. Banyak orang yang beranggapan bahwa Almira mirip sama penyanyi berbakat, Raisa. Tapi bagi gue, gak mirip-mirip banget, malah cantikan Almira daripada Raisa. Walaupun dari namanya bisa diplesetkan menjadi ‘Almira Raisa Aras’.
Raisa KW 2 (Almira) dan Bagus memenangi kategori murid Terkepos alias pengen tahu melulu. Sumber: foto angket kelas M2M
Jika dilihat dari jauh ia seperti ibu-ibu mau menghadiri acara pengajian. Pulang-pergi bareng Winda Maharani (lihat nomor 33). Kalau gak salah ia sangat menggemari masakan Padang (yaiyalah). Memiliki suara agak parau, apalagi sesudah olahraga, kelihatan banget capeknya yang menyebabkan suaranya semakin parau. Ia juga gemar tertawa, tapi gak sering-sering banget. Saat ini ia sedang menempuh studi di Politeknik Media Kreatif mengambil jurusan periklanan (CMIIW).
6.      Andika Hermawan
Ia adalah maskot/dedengkotnya M2M. Seluruh siswa-siswi M2M pasti mengenalinya. Ia tidak lain tidak bukan adalah Pae alias Andika Hermawan. Dipanggil Pae karena dia berwajah sedikit lebih tua (memang tua 2-4 tahun di atas kami). Rambutnya yang selalu basah menandakan ia pria metrosexual. Sikap berjalannya yang penuh dengan wibawa disertai tatapan nanarnya memasuki setiap jiwa murid-murid lain. Pertama kali gue masuk PKP, lalu MOS, gue sama sekali gak pernah melihat dirinya. Tahu-tahu si Pae ini sudah duduk manis di kelas. Sesekali gue suka diantar pulang sekolah olehnya sampai gang depan, kan lumayan ngirit ongkos.
Pernah menjadi anggota OSIS, namun pada akhirnya ia mengundurkan diri karena sudah tidak tahan menjadi pusat perhatian. Selalu menjadi bahan olok-olokan, guyonan, candaan, cengan, dan bahan perbuatan tercela lainnya. Gue suka merenung apabila gue bercanda suka kelewatan sehingga ia menjadi sakit hati, mudah-mudahan jangan. Walaupun gue sering bercanda tidak senonoh tapi gue nggak ada maksud untuk menjelek-jelakkan/menyakiti perasaan teman sendiri, sama sekali gak bermaksud demikian. Ia juga alergi terhadap camera, handycam, atau apapun itu yang sekiranya ingin memotret atau merekam wajahnya.Selalu lebih bersemangat melakukan sesuatu jika disuruh atau didukung oleh perempuan. Bisa diajak kemanapun, terutama diajak ke kantin atau ke kamar mandi, pasti ia selalu siap. Contoh:
“Pae, ke kamar mandi yok?” ajak gue.
“Ayoohh~” balas Pae.
“Pae! anterin gue ke kantin yok?” ajak gue.
“Nyok jat.” balasnya.
Untungnya gak:
“Pae! ke kamar mandi yok, pegangin titit gue.” ajak gue.
“Ayoohh~” balas Pae.
Lord Andika Hermawan berhasil menyabet gelar Best Person. Sumber: foto angket kelas M2M
Yang paling kocak bin koclak adalah ketika Pae mewek meraung-raung di kelas, sambil megangin laptop axioonya. Kalau gak salah kejadian sakral tersebut terjadi pada saat kelas 1 SMK. Ia mewek disebabkan karena ia memandang foto mantannya terlalu lama. Awalnya gue lagi makan di kelas, duduk di bangku paling belakang, kebetulan Pae juga duduk di baris belakang. Selagi makan, lalu gue noleh ke arah kiri, seketika gue melihat Pae yang sedang berurai mata menahan sesaknya kerinduan dari sang mantan. Sumpah ketika itu juga gue pengen ngakak, tapi takut pas gue ngakak dia marah terus ngelempar laptopnya ke arah gue, bisa berabe. Kemudian, gue panggil aja teman-teman untuk menyaksikan kejadian memilukan dan memalukan (lebih banyak malunya) supaya teman-teman tahu momen yang begitu janggal tersebut.
Gue ingat Pae nangis sambil nunduk, terus lihat lagi ke layar laptop, terus nutupin mukanya sambil mewek, sehingga mukanya Pae berubah menjadi lecek bin kumel. Matanya berubah menjadi sayu seperti kubis yang sudah 4 hari di dalam kulkas. Pae terus mewek sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa teman-temannya menyaksikan tumpahnya air mata Pae. Setelah ia sadar bahwa semakin banyak murid yang menyaksikannya, Pae merasa terusik. Sampai-sampai teman-teman MM1 datang untuk memberikan...........cercaan terhadapnya karena sudah tua kok nangis, gak tahu malu. Setelah ia sadar bahwa semakin banyak orang berbondong-bondong melihatnya, Pae berteriak:
“Tutup pintunya!! tutup!! anghmms... anghmms..” kelakarnya diiringi suara tangisan.
Alfado lalu ngomong ke gue:
“Untungnya gak gini jat: Tutup!! tutup pintunya!! kunciin pintunya!!!” Alfado terkekeh. Gue pun terkekeh. Karena kalau dikunciin pasti Pae juga yang nyesel, sudah mah nangis terus dikunciin. LOL.
Pae juga pernah diinterogasi oleh kami secara tidak berperikepaean.
Video 1
Di akun Youtube gue pun banyak video-video Pae, salah satunya.
Video 2
Kemudian, Pae kalau ngomong cepat banget, bibirnya seperti diolesi oleh biji cabai Bhut Jolokia, cabai terpedas di dunia. Contohnya ketika ia manggil gue:
“Jajajajat.. eng.. jajajajat.” panggil Pae.
Terkadang karena saking cepatnya ia ngomong, yang terdengar menjadi:
“Cacacacat... eng.. itu cacacacatt.” panggil Pae.
Gue cuma bisa menjawab:
“Hah?? apa Pae? cicak??” tanya gue gak ngerti.
Ia juga jika memanggil seseorang sangatlah tidak senonoh, misalnya ketika ia memanggil Bagus Eka Putra (lihat nomor 9) seperti:
“HOSSHH.. HOSHH..” panggil Pae sembari telunjuknya menunjuk kesana-kemari. Bagus hanya bisa ngakak, gue pun ikutan ngakak. Kami pejantan M2M, terutama gue sangatlah menyukai humor disertai imajinasi menggelikan. Karena Pae adalah maskot M2M, maka ia tidak lepas dari korban kekonyolan teman-temannya.

Di kelas, Pae duduk di barisan paling belakang, di depannya ada salah satu murid bernama Mohamad Abyanara Fatah (lihat nomor 24) dipanggil Aby. Dikarenakan Pae sering memanggil atau membutuhkan bantuan Aby, teman-teman mengubahnya menjadi ‘Abi’ untuk Aby, serta ‘Ummi’ untuk Pae. Hasilnya, seperti pasangan suami istri yang sudah sah. Aby berubah menjadi‘Abi’ tidaklah aneh, karena yang berubah hanya huruf akhirannya saja, serta pelafalannya pun masih sama. Sedangkan Pae berubah menjadi ‘Ummi’ sangatlah menggelikan, karena sudah jelas Pae adalah laki-laki, tapi kenapa menjadi ‘Ummi?’ Itulah indahnya suatu imajinasi. Setelah sekian lama mereka akrab dengan sebutan ‘Abi’ dan ‘Ummi’, gue sebagai murid berimajinasi tinggi memprakarsai untuk diubah panggilan tersebut menjadi ‘Ibbi’ dan ‘Immi’.
Ibbi dan Immi menurut gue lebih cocok, lebih catchy, dan lebih romantis, karena di awal masing-masing huruf sama. Teman-teman lain pun mengakui atas ide cemerlang tersebut. Gue suka membayangkan ketika Pae memanggil Aby dengan sebutan ‘Ibbi’ tapi intonasinya panjang di akhir kata, seperti “Ibbiiiiii...” Lalu dibalas oleh Aby “Immiiiiii....” Romantis banget. Setelah perubahan panggilan kedua tersebut, gue memiliki ide ‘gila’ lainnya yakni merubah huruf ‘I’ menjadi ‘E’ serta di akhir kata disisipkan huruf ‘H’ (Ebbeh dan Emmeh) supaya lebih jijik-dramatis, misal:
“Ebbehhh’ “ dan “Emmehhh’ “
Jadi, di akhir kalimat ada tanda petik 1 yang berarti lebih ditekankan di akhir kalimat. Seperti suara kambing keselek biji durian. Gue selalu bercanda tentang ‘Ebbeh dan Emmeh’ bersama teman-teman, tidak jarang Aby mengetahui perbuatan tercela teman-temannya diiringi senyuman palsu. Pae? ia gak sadar dan kalem-kalem saja, alhamdulillah. Saat ini Pae sedang melanjutkan studi di BSI (Bina Sarana Informatika).
7.      Annisa Fitriani
Ini dia cewek termanis di kelas Multi2Media. Gue baru sadar setelah 2 tahun belajar di SMK PKP 1. Gue tahu Annisa dari kelas 1, karena ia duduk tepat di belakang tempat duduk gue bersama Fauzia Virne Sheila (lihat nomor 18). Ciri khas Annisa pada saat kelas 1 dulu adalah tempat pensilnya yang berwarna merah muda bertuliskan ‘Koin untuk Bilqis’. Iya memang pada saat itu sempat ramai diberitakan anak yang bernama Bilqis mengidap suatu penyakit dan membutuhkan tambahan dana (CMIIW). Gue ingat dulu masih di kelas 1 Annisa ditembak secara blak-blakan oleh Faidil Achmad Kosim, anak MM1 keturunan Padang pedalaman. Faidil menyatakan rasa cintanya kepada Annisa karena tanggal ulang tahun Faidil sama kayak tanggal ulang tahun Annisa. Wow!
Annisa dan Tigor didapuk sebagai murid Termodis. Sumber: foto angket kelas M2M
Waktu itu baik murid M2M dan MM1 berhamburan keluar diserta hiruk-pikuk untuk menyaksikan perbuatan nekat Faidil. Ketika kejadian ‘naas’ tersebut gue cuma ketawa-ketawa doang serta geleng-geleng kepala. Tapi gue salut sama Faidil karena ia sudah berani menyatakan perasaannya, walaupun dengan cara yang ‘frontal’ dan.......DITOLAK!
Entah kenapa dulu gue menganggap Annisa memiliki wajah yang biasa-biasa saja, tapi seiring berjalannya semester, makin lama makin cantik. Gue pernah ke rumahnya di dekat GOR Ciracas bersama Arfil Maulana (lihat nomor 8) untuk mengerjakan tugas bahasa Inggris. Di sana, gue dan Arfil dibelikan masing-masing sebungkus nasi padang beserta lauknya yakni ayam bakar (kalau gak salah, karena sudah lama jadi lupa).
Jujur, waktu itu gue merasa gak enak, karena sudah merepotkan dirinya, ditambah dia yang bayarin. Masih menjadi hal yang misteri dan belum diketahui apa penyebabnya oleh para ahli ketika gue merasa gak enak, sungkan, dan malu-malu kucing terhadap orang yang gue ‘demen’, gue suka salah tingkah. Terus terang, selama di rumahnya, gue merasa canggung. Apalagi waktu itu nyokap sama bokapnya Annisa ada, adiknya juga ada. Satu hal yang membuat gue terperangah adalah ketika melihat bokapnya, sudah ubanan. Pantesan dipanggilnya ‘Abah’, seperti keluarga cemara, keluarga berbahagia. Gue suka senyum-senyum membayangkan Annisa setiap pagi sehabis mandi menyambut hari, berkata kepada bokapnya “Selamat pagi Abah..., selamat pagi Emak....” sambil bawa cangkir gede khas orang Betawi.
Annisa di kelas salah satu siswi yang mempunyai etos belajar yang baik. Ia supel, smart, strong, cute, easy to smile, punya prinsip, dan sebagainya. Meskipun begitu, jika sudah marah Annisa begitu mengerikan. Pernah suatu ketika Annisa sedang berbicara mendiskusikan suatu rencana kegiatan di depan kelas, ia berteriak lantang “Weeiii!! Diemm!! Kalau ada orang ngomong di depan itu dengerin!!” teriaknya keras. Gue kaget, panik, dan langsung diam karena gue menyangka Annisa berteriak ke arah gue, dan kebetulan gue juga lagi ngomong.
Namun, orang yang menjadi sasaran kengerian kemarahan Annisa adalah Dhika Kamesywara alias Bule (lihat nomor 12) yang kebetulan juga berada di samping atas gue. Seluruh siswa-siswi diam, hening, tanpa suara, terkecuali suaranya Dhika penuh rasa memelas “Ya ampun...” Hahaha. Gue ngakak dalam hati. Seandainya gue ngakak pasca kejadian, mungkin gue akan disentak oleh Annisa semisal:
“Ehh!! Jangan ketawa lu!! gak lucu tau gak !!” bentak Annisa.
Mungkin gue akan refleks menatap matanya dalam-dalam, lalu memeluknya sambil mengusap kepalanya dan bilang:
“Annisa.. jangan marah gitu dong...” kata gue mesra kemudian pingsan selama 3 hari. Gue pernah punya niatan jikalau suatu saat nanti gue akan ajak ia menyaksikan festival lampion, hanya berdua. Pasti menyenangkan. Saat ini Annisa sedang menempuh studi di Telkom Purwokerto.
8.      Arfil Maulana
Arfil adalah siswa paling jangkung di kelas M2M. Memiliki kulit putih tanpa bulu, serta badan yang lumayan kurus. Kepala gue saja cuma sampai bahunya, itu juga posisi berdiri Arfil belum sempurna. Seperti foto di bawah ini:
Gambar 1.

Arfil ini pandai dalam mata pelajaran Multimedia, baik itu editing vector maupun bitmap, web program, 3dmax, flash, dan sebagainya. Gue sering meminta batuannya apabila mengalami kesulitan dalam mempelajari tugas multimedia. Pertama kali gue lihat Arfil adalah ketika masa-masa MOS, tepatnya di musala  lantai 2 sekolah. Ia memakai baju olahraga yang bertuliskan SMP Tugu Ibu di punggungnya, hampir mirip dengan baju olahraga Gantri Radimas Sri Santoso (lihat no 20). Kemudian, secara kebetulan gue sekelas sama Arfil.
Arfil tertangkap kamera CCTV. Disinyalir dia mau ngutil permen sugus di Toko Mini
Teman-teman dulu memplesetkan namanya menjadi Carvil (merk sandal/sepatu terkenal) ketika ia memperkenalkan dirinya di depan kelas. Gue pernah marah ketika foto gue yang ada di facebook di-edit sama Arfil. Entah kenapa waktu itu gue merasa tersinggung dan terhina. Padahal, setelah 3 tahun berlalu, gue pikir-pikir lagi editannya gak parah-parah amat. Malah bisa dibilang standar lah. Arfil juga niatannya cuma ingin bercandain gue doang. Gue masih ingat di foto tersebut gue sedang berdiri memakai sweater warna hijau sambil kedua tangan gue menunjuk ke salah satu spanduk ruko. Lalu ditambah tulisan cock yang artinya ayam dan kepala gue dikasih jengger. Setelah gue merasa tersinggung, gue berencana pada Bagus Eka Putra dan Muhammad Ikhlasul Fikriansyah untuk memusuhi Arfil dan jangan temenan lagi dengannya. Rencana tersebut gue lakukan di toilet sekolah sambil kencing:
“Udah ah, kita gak usah temenan lagi sama dia.” seru gue mantap sambil menurunkan retsluiting.
“Kenapa emang jat?” tanya Bagus.
“Itu gus foto gue yang di-edit” jawab gue sambil megang otong gue.
Setelah dari toilet, gue masuk ke kelas. Tidak lama kemudian, gue memprotes Arfil untuk segera men-delete foto tersebut.
“Fil.. hapus ah fotonya.” kata gue dongkol.
“Yaelah ris.. hahahay..” jawab Arfil santai.
Setelah mendapat jawaban seperti itu, gue diamkan si Arfil. Jika ia bertanya atau ngomong ke gue, gue abaikan. Mungkin karena diabaikan melulu sama gue serta dia juga merasa iba kepada gue, foto tersebut dihapus. Setelah pengeditan foto tersebut hubungan gue sama Arfil semakin akrab. Apalagi pada saat kelas 3, saat-saat menuju perpisahan. Semua teman-teman terlihat semakin kompak dan menyatu-padu, gue bangga. Beberapa bulan kemarin juga Arfil berkunjung ke rumah gue bersama teman-teman lain. Itu tandanya, gue masih dianggap sebagai sobat olehnya dan juga teman-teman. Arfil memiliki hubungan istimewa dengan Yulia Mawarini (lihat nomor 35). Tapi gue gak tahu hubungan mereka sampai saat ini seperti apa, karena gue bukan bapaknya.
Ia memiliki motor Yamaha Mio warna putih yang bertuliskan Amore di samping masing-masing body motornya. Arfil sebangku sama Alfado, tidak jarang mereka suka membuat usil di kelas, cekikikan pada saat guru sedang menerangkan di depan kelas. Bisik-bisik lalu nyengir, sesekali mereka berdua membagi bahan candaannya ke gue.
“Jat... jat... pssstt... pssstt... hihihihikk” bisik mereka.
“Oh... iya... ya.. ya..  hakhakhakhakhak” balas gue.
Kadang-kadang gue suka ngeri apabila membuka laptop lalu terhubung ke saluran internet. Takut jika tiba-tiba laptop atau akun-akun gue di-hack sama Arfil. Arfil dikenal juga sebagai murid yang lihai meretas databese suatu akun tertentu. Saat ini ia sedang menempuh studi di Universitas Mercubuana mengambil jurusan desain produk.
9.      Bagus Eka Putra
Gue terkejut ketika melihat calon murid agak gundul tertawa begitu keras di lapangan sepak bola PKP. Calon murid yang dimaksud adalah sobat gue yang doyan ngakak yaitu Bagus Eka Putra. Kala itu gue habis menjajal permainan flying fox, setelah turun gue melihat ke sekeliling lapangan, di sana banyak calon murid sedang bercengkrama, menunggu giliran, bengong, sange, dan capek. Pada saat mata gue menjelajah ke sekitar lapangan, ada suara ketawa yang begitu keras: “Hagg.. hagg.. hagg..” Lantas mata gue mencari tahu dari mana asal-usul suara yang begitu seram tersebut, lalu tertangkaplah oleh mata gue seorang laki-laki sedang ngakak begitu lebar. Gue berkata dalam hati “Nih orang kayaknya asik, dari tadi ketawa mulu... atau otaknya agak error?” Di kelas, Bagus terkenal akan suara ngakaknya yang begitu keras dan membahana, sampai-sampai foto Presiden dan Wakil Presiden berjatuhan (dramatisir). Terkadang, suara ngakaknya Bagus terdengar begitu memaksa, seperti:
“Aghaagagaghh... aghagagah... ghhah.. ghhahh..” ngakaknya berlebihan.
Apalagi jika gue sedang melawak sesuatu, Bagus pasti ngakak paling pertama dan paling kencang:
“AGAGAGAGHH.. IYA JAT IYA JAT.. AKHHOAKHH.. AKHAAKKKHH... KAH KAH KAH..” Bagus ngakak tak terkendali.
Ini Bagus si Maniak Toket
Tidak jarang ia menangis, terkulai lemas, bahkan sampai sakit perut karena perbuatannya sendiri. Sering rahang gue sampai pegal diakibatkan ngakak melulu bersama Bagus. Punya pacar bernama Pithaloka Yanu Andrina (kelas AK) dipanggil ‘Nci’ bermarga Palembang campuran Tionghoa pedalaman. Sesekali Bagus suka disuapin sama Pithaloka di kelas pada saat istirahat. Biasanya Pithaloka lenggak-lenggok menuju kelas M2M membawa bekal makanan sambil bersenandung, “Bagyuuss~ Bagyuuss~” penuh manja. Saat menginjak kelas 3, ia dicalonkan sebagai ketua kelas, dan terbukti Bagus menang secara sah menjadi ketua kelas M2M.
Awalnya Bagus gak mau jadi ketua kelas, namun dikarenakan teman-teman mendukung sepenuhnya, mau gak mau ia harus mengemban tugas berat tersebut. Slogan atau yel-yel untuk Bagus diprakarsai oleh Arfil, yang berbunyi “Bagus memang bagusss!” Dikarenakan Bagus gampang panikan, maka teman-teman pun semakin menggalakkan dukungannya terhadap Bagus. Selain itu, Bagus adalah penggemar ‘boobs’ (bahasa Indonesia: toket). Apabila ia melihat boobs yang lumayan montok dan besar, secara tidak sadar ia akan mendesis:
“Wuuussshh... buseeettt... uuuuhhhh...” desisnya penuh makna.
“Seeetttt... daaahhh...” desisnya karena kagum memandangi toket.
Kalau ada gue di sampingnya, pasti Bagus akan:
“Wuuusshhh... Uuhhh... Jaaatt... Jaatt...” desisnya sambil menyenggol tangan gue.
“Seeetttt... Jaatt.. Jaatt.. Gede banget...! Jaattt...!!” desisnya mesum dibarengi tatapan nakal khas pria hidung belang.
Sesekali apabila ia sudah ‘konak’ berat, maka secara tidak sadar ia akan berperilaku seolah-olah sedang mengesul di antara dua buah gunung kembar (toket). Sisi positifnya, ia dianugerahi sebagai murid yang memiliki nilai tertinggi Ujian Akhir Nasional se-SMK PKP 1 tahun 2012. Give him applause. Gak nyangka siswa penyuka toket bisa meraih nilai tertinggi di sekolah. Hal tersebut turut membanggakan seluruh anggota M2M, karena nama besar M2M semakin dikenal di kalangan para siswa-siswi dan juga guru-guru. Bagus adalah satu-satunya teman yang pernah berkunjung ke rumah gue di Padalarang sebanyak 3 kali! Bagus memang sobat gue. Saat ini ia sedang menempuh studi di LP3I Depok mengambil jurusan Web Programmer.
10.  Clazara Larasati
Cewek bertubuh kecil laksana kurcaci ini biasa dipanggil ‘Mami’ oleh teman sepermainannya. Gue ingat ketika MOS Clazara sebangku sama Riyan Saiful (MM1) dan waktu itu rambutnya masih agak keriting, juga Clazara masih kelihatan seperti bocah ingusan. Dari kelas 1 sampai kelas 3 ia sebangku sama Mayang Khoirunnisa di pojokan paling depan dekat pintu. Dulu ia punya kucing bernama Paris, mungkin karena nama kucingnya Clazara hampir mirip sama nama gue (cuma beda huruf depannya saja), maka ia memanggil gue dengan sebutan:
“Pariiiisss.... Pariiiisss...” panggil Clazara.
Gue sih senyum-senyum saja dipanggil kayak gitu.
Untungnya gak kayak gini:
“Pariiiisss.... Pariiiisss... nih makan dulu wiskasnya.” panggil Clazara sambil menyodorkan wiskas (makanan kucing) ke gue.
Clazara dan Alfado kompak menyabet gelar murid Tercuek. Sumber: foto angket kelas M2M
Kalau di film-film, kucing-kucing mahal semacam kucing Persia, kucing Angora, dan kucing Mesir pasti hidupnya dimanja, diperhatikan, dan diayomi. Bahkan mereka kucing-kucing mahal hidupnya selalu terpenuhi, baik secara jasmani maupun rohani. Dari sisi jasmani mereka dikasih makan, tempat tidur, tempat pup, bahkan ada tempat untuk bermain khusus kucing. Dari sisi rohani mereka dielus-elus, dibelai-belai, diusap-usap, dan sebagainya. Apalagi kalau dielus-elus sama cewek, pasti mereka (kucing) dipangku, kemudian dikecup, dibelai-belai, atau yang lebih ekstrem dikasih susu alias ‘netek’.
Jujur, gue envy jika melihat kucing diperlakukan layaknya demikian, kalau boleh sih gue ingin menjadi siluman kucing, ketika malam tiba gue berubah menjadi kucing dan akan menyelinap ke rumah warga, manisnya dipangku sama cewek cantik, dan pahitnya disiram air mendidih.
Kembali ke Clazara. Satu hal yang gue suka adalah parfumnya Clazara yang menurut gue wanginya seperti ketika kita berada di toko swalayan. Kala itu gue kaget karena ada wewangian yang lain daripada yang lain, setelah 5 menit gue mengendus mencari-cari aroma tersebut, ternyata berasal dari tas Clazara.
Kebetulan tasnya gak ditutup, lalu gue ubek-ubek walaupun keadaan di kelas sedang ramai. Ternyata benar, aroma wangi tersebut berasal dari sebotol parfum, seketika gue mengendus parfum itu, untungnya gak sakau. Clazara terkenal akan jargon-jargonnya yaitu ‘Ora ono ora iso’ ‘what the f**k’ dan lain-lain yang gue gak tahu. Pernah digosipkan menjalin hubungan terselubung dengan Wisnu Wicaksono. Gue gak tahu siapa yang demen duluan, tapi kayaknya sih Wisnu yang demen Clazara. Di penghujung akhir sekolah kabarnya Clazara berhubungan spesial dengan Alfado.
Tapi sekali lagi, kayaknya sih Alfado yang demen Clazara. Kadang-kadang Clazara kalau lagi ngomong agak keras dan cempreng. Kerap kali mengeluarkan kata-kata yang lumayan jorok, entah di kelas maupun di kantin. Pernah menetap di Prancis untuk melanjutkan studi akademiknya. Tersiar kabar ia sudah kembali ke Tanah Air.
11.  Danang Wahyu Jati
Cowok berkumis tipis ini tidak lain tidak bukan adalah alat barterannya Ahmad Mudzakir Salim (lihat nomor 1). Seperti sudah disebutkan pada nomor 1, mereka dibarter agar kegiatan belajar mereka bisa fokus dengan tanpa sohib-sohibnya yang selalu mengajak mereka ke jurang kesesatan. Danang menurut gue tipe cowok yang jago meluluhlantahkan hati cewek, mungkin karena kumis tipis serta wajah manisnya yang membuat beberapa cewek terkesima melihat auranya. Pada saat MOS dulu ia memang sudah terkenal dibicarakan oleh kakak kelas, mungkin karena Danang pandai bermain alat musik. Sedangkan gue? gue dibicarakan oleh kaum emak-emak militan.
Danang dengan Kumis Tipisnya
Masih ingat di benak gue dulu saat kelas 1 SMK, Danang mengajak seluruh siswa M2M untuk membuat almamater kelas. Para siswa lain menyetujui ajakan Danang karena dulu kita masih sangat polos, sepolos kacang polong kiloan. Putih tak berisi cenderung hambar, itulah kami dulu. Kami pun patungan mengumpulkan duit untuk disetorkan ke Danang, minimal ngasih 2 ribu rupiah. Gue beserta anak-anak lain sudah pasti ikutan untuk bikin almamater, karena almamater lambang kesolidaritasan suatu kelas. Selain itu, kami mengiyakan ajakan Danang karena katanya ia bikin almamater tersebut di butik. Gue percaya gak percaya Danang bikin almamater di butik, setahu gue butik bukannya jualan kayak baju-baju pengantin, gaun, jas, dan biasanya butik gak menerima pesanan almamater kelas. Wallahuallam.
Biasanya gue menyetor setelah pelajaran olahraga, jadi suasana di kelas tak ubahnya seperti di tempat persinggahan supir truk, bau akan keringat. Keringat penuh dosa. Tapi tergantung bau ketek juga, ada yang bau bawang bombay, seperti di pasar Ciracas, ada yang keteknya bau busi mobil, seperti di bengkel. Macam-macam pokoknya. Pesanan almamater tak kunjung datang, proses berbelit semakin lama, sebagian murid memprotes Danang karena pesanan almamater tidak selesai jua. Akhirnya gue bertanya padanya:
“Nang.. kapan almetnya dateng?” tanya gue sambil menyerahkan uang goceng lecek kepadanya.
“Nanti jat, emang agak lama, soalnya bikinnya di butik.” jawab Danang menerima uang goceng yang terlihat seperti bungkus cabai karena saking leceknya.
Gue cuma diam mempercayakan hal ini kepada Danang. Beberapa minggu kemudian, pesanan almamater kelas pun tiba. Banyak di antara kami yang excited menantikan almamater pertama di kelas 1 SMK. Pada saat dibuka, wajah excited berubah menjadi wajah ekampret. Sebagian murid menatap nanar ke arah almamater bikinan Danang, yang mungkin terlukiskan pada saat melihat almamater tersebut adalah “Gak salah nih?!” Mungkin banyak di antara kami murid-murid M2M yang kecewa atas almamater bikinan Danang. Tapi kekecewaan tersebut ditutupi dengan tingkah sok excited, seperti menjajalnya langsung, langsung dimasukan ke dalam tas, dibelai-belai, atau bilang “Oh.. bagus, iya  bagus kok.”
Mata menurut gue tidak bisa menutupi kebohongan, termasuk rasa kekecewaan. Dari mata, gue atau bahkan kalian bisa melihat perasaan seseorang yang sebenarnya. Jadi, walaupun kala itu murid-murid terlihat senang, namun dilihat dari mata masing-masing murid terkesan biasa saja. Sama halnya gue terkesan biasa saja dengan tampilan almamater tersebut, walaupun gue cukup senang karena akhirnya datang juga karena gue bayar almamater tersebut. Terpampang nametag bernama ‘Vermilion’ yang artinya merah terang cenderung oranye. Nama tersebut gue ambil dari salah satu lagu Slipknot yang berjudul ‘Vermilion’. Karena masa itu gue lagi ngidam-ngidamnya sama lagu Slipknot.
Almamater tersebut didominasi oleh warna biru gelap, disertai warna kuning. Di bagian belakang terpampang tulisan ‘D’Frog Jump’, yang berarti ‘D’kodok lompat.’ Gue sendiri gak tahu percis apa maksud dibalik arti D’Frog Jump, tapi yang pasti kami seperti sekelompok bangkong di tengah sawah yang hendak melompak dengan liar. Di bagian sisi kanan bertuliskan J.I.S yang berarti Jakarta Islamic School, padahal sekolah kami lebih terkenal dengan sebutan PKP. Jujur, gue kurang sreg dengan sebutan JIS, karena terdengar seperti na-JIS, atau JINK, bahkan JINKZ. Seperti orang yang sedang kesal sambil berteriak “Jinnkkzzz lo.” Kemudian di sisi kiri bertuliskan angka 2013 dengan bentuk segi empat. 2013 bermakna bahwa kami akan lulus pada tahun tersebut, alhamdulillah lulus juga.
Pada hari pertama setelah almamater bikinan Danang sudah sampai di tangan masing-masing murid, mereka terlihat memakainya dengan penuh rasa bangga. Hampir sebagian para siswa-siswi M2M memakai almamater tersebut. Jalan berbarengan di koridor kelas, disambut oleh para siswa-siswi kelas lain yang terenyuh melihat gelagat kami bak gangster Mexico, tinggal bawa pentungan sama rantai jadilah kami ‘The Gangsta’. Namun, kejadian tersebut tidak berlangsung lama, hari demi hari para murid urung memakai almamater tersebut, karena banyak orang menilai almamater buatan Danang seperti jaket untuk satpam. Jedar!Yang awalnya apabila kami memakai almamater bisa meningkatkan harkat dan martabat M2M, tapi jadinya malah terkena hujat dan martabak telor.
Yang awalnya laksana gangster di daerah perbatasan Meksiko, tapi malah dikira satpam yang hendak pergi bekerja sekalian ngelembur saat shift malam. Tidak sedikit murid yang mengeluh dengan almamater bikinan Danang, ada yang menjualnya, ada yang dibiarkan begitu saja, ada yang diubah kembali karena tidak sesuai dengan keinginan, ada yang dikasihkan ke sanak saudara, dan ada yang tetap memakainya. Bahkan sampai saat ini. Gue sendiri masih menyimpan almamater tersebut, karena gue menilai bukan dari desain, motif, model, bentuk, atau apapun dari almamater tersebut yang membuat gue mempertahankan almamater bikinan Danang, karena gue menilai dari kecanggungan, kepolosan, kebersamaan, kekompakan, dan keharmonisan kami bersama saat kelas 1 SMK dulu yang terlukiskan semua di almamater D’Frog Jump.
12.  Dhika Kamesywara
Pada saat MOS dulu gue sebagai calon murid baru berbaris di lapangan sekolah. Baris di tengah-tengah barisan dengan perasaan penuh kedataran. Ketika baris-berbaris, gue menengok ke samping kiri ada Arijal alias Parto (MM1) yang gue lihat nametag-nya terpampang foto dirinya sedang sun tangan sang bunda tercinta penuh haru. Gue ketawa ngikik melihat foto Arijal, karena menurut gue terlalu berlebihan, kesannya kayak mau sekolah di luar negeri, tapi pihak sekolah nyuruhnya begitu. Lalu gue melihat ke depan, ada murid seperti Meng Huo, karakter yang ada di Dynasty Warrior 5. Murid tersebut adalah Agraditya Putra (MM1) memakai gesper daun pandan untuk menambah wangi masakan yang sudah disteples rapi serta dililitkan dengan tali rafia.
Dhika si Bule Wong Solo Dengan Kacamatanya yang Super Unyu
Gue ngakak dalam hati karena yang dimaksud bukan daun pandan untuk masakan, tapi daun pandan yang bentuknya panjang, kayak gue dulu, rapi, teratur, dan dianyam, karena gesper gue dibikinin sama ... tetangga. Setelah melihat berbagai pernak-pernik calon murid baru yang ‘amburadul’, dari sisi kanan terdapat aura yang begitu berbeda, dan seketika menoleh ke arah kanan, gue melihat calon murid yang cool, like a boss, different from another student, dan arrogant. Murid itu berambut agak kepirang-pirangan, memakai kacamata, mulut dimanyun-manyunin menambah kesan cute menggemaskan, dan memasukkan tangannya ke saku celana, layaknya murid-murid di Osaka, Jepang. Perkiraan gue dulu murid ini dari Sydney, Australia, lazimnya pertukaran pelajar antarnegara tetangga, kan Australia sama Indonesia bisa dibilang sahabatan.
Bangga juga gue sama SMK PKP 1 sudah mendatangkan pelajar dari negeri Kangaroo serta dari negara yang termasuk Benua di dunia. Ingin gue tanya murid tersebut, tapi grammar bahasa Inggris gue dulu masih newbie, takutnya keliru atau malah salah paham, jadi gue urungkan niat tersebut. Keesokan harinya, murid itu dipanggil ‘Bule’ oleh kakak kelas, karena ia memang berkulit putih bersih, mata sipit, dan rambut pirang. Gue tercengang setelah ia memberi pengakuan bahwa ia bernama Dhika, dari Solo, Jawa Timur. Kampret, gue tertipu casing-nya itu orang. Ternyata murid itu Wong Jowo, dengan bahasa logat Jawanya lumayan medok. Lalu gue menganalisis, bahwa para preman di wilayah Jawa Timur rata-rata berambut pirang, serta kulit putih bersih, dan agak tampan. Sangat berbeda dengan preman-preman di Jakarta, yang rata-rata berwajah Shrek

.
Kemudian, gue mengambil kesimpulan bahwa si Dhika adalah ‘mantan preman Solo yang berkelana di Ibu Kota Jakarta untuk memperbaiki kualitas hidup supaya lebih baik’. Bubu adalah sapaan akrab Dhika sehari-hari di sekolah. Panggilan tersebut gue yang mencetus karena terkesan imut daripada Bule. Dari kelas 1 sampai kelas 3, Dhika sebangku sama Gifari, tidak jarang mereka berdua sering bertengkar. Dikarenakan mereka sering bertengkar, mereka dijuluki Bubu dan Aa Riri, percis seperti duo maho yang sedang menjalin cinta monyet. Mereka duduk di barisan depan, jadi jikalau mereka sedang bertengkar memperebutkan sesuatu yang tidak jelas, maka akan terlihat dengan jelas oleh seluruh warga M2M. Tidak jarang ia suka membawa netbook warna putih ke sekolah.
Namun, nasib netbook tersebut tidak bertahan lama, karena sering dijadikan pelampiasan kemarahan para siswa. Sampai-sampai gagang netbook tersebut komper karena cara penggunaan yang salah. Ada yang membuka netbook tidak sabaran sampai terdengar bunyi ‘ngek’ dan ada yang pada saat menekan keyboard terlalu keras, sampai terdengar bunyi ‘bletak’ (gue termasuk yang ini). Dulu gue juga sering minjem netbooknya Dhika, tapi bukan buat mengerjakan tugas, tapi buat main CTR (Crash Team Racing). Game balapan yang sangat fenomenal di tahun 2002, serta salah satu game favorit gue yang sampai sekarang gak pernah bosan. Jadi aji mumpung di netbooknya Dhika dipasangkan game CTR, serasa kembali ke zaman SD, zaman yang penuh kebahagiaan. Dhika ini suka banget sama hal yang berbau anime dan manga, terutama hentai anime dan hentai manga. Ia juga penggemar boyband/girlband Korea, itupun karena ia sering memainkan game AyoDance yang kebetulan lagunya kebanyakan lagu-lagu Korea.
Gue masih ingat saat kelas 1 dulu hape Sony Ericssonnya Dhika dikaretin karena penutup battery hape tersebut sudah tidak berfungsi lagi. Hal tersebut dijadikan bahan olok-olok karena hape kok kayak bungkus nasi uduk dikaretin segala. Gue melihatnya kasihan campur iba, karena pada saat melihat Dhika waktu MOS begitu parlente, namun ketika sudah sekelas seperti imigran gelap yang butuh pertolongan dari warga pribumi. Makin lama makin ke sini, menurut gue Dhika semakin ‘semrawut’. Rambut acak-acakan, suka telat, baju keluar-keluar, jaket Foxone kusut, celana kumal dan ada beberapa sobekan kecil di lutut, kacamata kebesaran yang menambah kesan seksi di kalangan para siswa, tangan kanan gorengan, tangan kiri minuman yang sudah diplastik, mulut berminyak karena ngunyah gorengan melulu, tasnya yang berisi banyak buku serta kertas-kertas penuh coretan, dan banyak kesemrawutan lainnya.
Kejadian yang bisa dibilang gue sama Dhika hampir berseteru adalah ketika anak-anak sedang berunding tentang suatu rencana kegiatan (gue lupa rencana apa). Ketika sedang berunding, Dhika sedang berdiri di depan kelas, berdiri dengan gayanya yang agak kecaper-caperan. Kebetulan gue bawa handycam, lalu mengeluarkannya dari tas. Maksud gue waktu itu adalah hendak merekam semua anak-anak M2M yang sedang berunding, namun bisikan setan datang dari Alfado. Ia membujuk gue untuk merekam Dhika yang sedari tadi sedang enjoy di depan kelas. Gue pun lantas menuruti ajakan Alfado, karena akan lucu juga Dhika yang notabene setengah laki-laki bakal gue upload ke Youtube.
Saat sedang asyik merekamnya, tiba-tiba raut mukanya berubah, terlihat kesal, penuh rasa amarah yang hendak membuncah, diiringi menendang meja dengan keras lalu ngedumel dengan tatapan ke arah gue. Gue yang merasa gak enak dan gak mau ribut terpaksa menghentikan aksi jahil tersebut. Dhika segera ditenangkan oleh sebagian anak-anak cewek, gue yang merasa bersalah agak kikuk juga, ini semua gara-gara si Alfado. Kampret. Setelah itu kami pulang, gue bareng Fikri, dan Dhika bareng Alfado. Terlihat Dhika masih agak kesal atas perbuatan gue yang memancing birahinya, eh kekesalannya. Maaf. Dikarenakan gue gak mau memperpanjang masalah sepele ini, gue segera meminta maaf kepadanya:
“Le, sorry le..” ajak gue memulai salaman.
“Udah jat, gak apa-apa.” balas Dhika walaupun raut mukanya masih agak males melihat gue.
Maka konflik itu pun selesai pada sore itu juga. Gampang marah gampang juga redanya. Kami pulang tanpa ada rasa yang mengganjal di hati satu sama lain.Saat ini ia sedang menempuh studi di Solo.
13.  Diana Fadira
Cewek bertubuh mungil agak ‘berlemak’ ini tinggal di Cimanggis, Depok. Diana adalah mantannya Gifari (lihat nomor 2) selama di SMK. Sering dipanggil Dira oleh teman sepermainannya, sedangkan gue lebih enak memanggilnya Diana. Ia juga sering dipanggil ‘Mupeng’ (muka pengen) oleh Bagus.
Diana si Mupeng
Menurut gue Diana jago dalam pelajaran matematika, tidak jarang teman-teman membutuhkan arahan serta bantuannya. Lemah dalam pelajaran IPS, sedangkan gue malah lumayan jago dalam mata pelajaran IPS, karena gue sering main PS. Gak ada hubungannya sih. Diana sudah 2x mengunjungi rumah gue yang di Padalarang, itu tandanya dia teman yang baik. Beberapa waktu lalu kami liburan bersama ke Gn. Tangkuban Parahu.
Liburan ke Gunung Tangkuban Parahu

Terlihat kami begitu akrab meskipun jarak di antara satu sama lain saling berjauhan, terutama gue.Ia dikabarkan sedang berusaha menurunkan berat badannya walaupun berat badannya gak turun-turun dikarenakan Diana tidak sanggup menjalani diet secara kontinyu.
Gue selalu berpendapat bahwa: Teman yang sudah menyempatkan waktu luangnya untuk bermain ke rumah gue di Padalarang, adalah teman yang masih menganggap gue sebagai temannya. Teman dekat Diana yang gue tahu adalah Dwi Riyanti Ihzan (lihat nomor 14). Mereka tidak jarang gue dapati selalu bersama, di kelas mereka berdua sebangku selama 3 tahun berturut-turut, di kantin, di lab, di aula, mereka terlihat selalu bersama, kecuali di kamar mandi. Pernah tersiar kabar bahwa Diana pernah menjadi korban KDB (Kekerasan Dalam Berpacaran) saat menjalin hubungan bersama Gifari.
Itulah sebabnya mengapa ia enggan kembali ke dalam pelukan Gifari. Walaupun gosip-gosip miring menyebutkan bahwa mereka rujuk kembali tidaklah benar. Ia bersama Dwi Riyanti Ihzan, Indriyana Gayantri (lihat nomor 22), dan Mayang Khoirunnisa (lihat nomor 23) pernah membuat sebuah grup yang bernamakan 2DIM saat kelas 3 SMK. 2DIM sendiri adalah sebuah singkatan dari nama-nama anggota grup tersebut yakni nama mereka berempat. Gak tahu siapa yang memprakarsai grup tersebut, gue pun tahu dari Mayang yang kebetulan pernah sekelompok tugas akhir sama gue. Momen yang selalu diingat adalah ketika gue diajak sama Gifari untuk bermain ke rumahnya sekaligus membantu mengerjakan tugas akhir kelompok Gifari.
Waktu itu gue diminta hadir untuk membantu lipsync dalam sebuah video klip dengan lagu Haru Harunya Bigbang. Selain gue yang diminta bantuannya oleh Gifari, Dhika pun diminta bantuannya untuk segera hadir dalam project tersebut. Jadilah kami bertiga seperti boyband ubur-ubur yang baru saja melaksanakan pembaptisan di hari minggu. Gue masih ingat kala itu rambut gue cepak, pendek nggak panjang nggak, dipadu dengan kacamata berlensa bening, disertai kemeja putih dibalut cardigan camo warna hitam, muka jerawatan ditambah mata agak jereng-jereng redup. Maka, gue terlihat seperti TKI yang dideportasi dari Korea Selatan.
Entah mengapa gue kalau sudah di depan kamera atau handycam pasti pede mampus, nggak peduli orang berkata apa tentang gue, tapi yang terlintas di pikiran gue adalah; ‘gue keren gila!’. Sama halnya dalam pembuatan video klip tersebut, gue mengerahkan seluruh kemampuan dalam ber-acting di depan kamera, walaupun video klip tersebut gatot (gagal total). Gue lipsync ngisi suaranya Top Bigbang, Gifari ngisi suaranya Taeyang, dan Dhika ngisi suaranya G-Dragon. Daesung dan Seungri? Kami lipsync bertiga. Alat pendukung waktu itu hanya sebuah kursi besar. Kami duduk berganti-gantian, terkadang gue di duduk di tengah, bersender di sisi kanan, dan kiri.
Begitu juga dengan Gifari dan Dhika.Perlu diketahui bahwa pembuatan macam film, video klip, iklan, dan sebagainya bukanlah perkara mudah. Apalagi macam newbie seperti kami dulu, jiwa masih labil, pendirian kesana-kemari, jalan petantang-petenteng, banyak gaya minim kualitas. Kami pun harus sampai mengulang beberapa kali adegan, mungkin setelah proses editing hasilnya akan terlihat indah, padahal di balik keindahan sebuah video klip, iklan, dan film ada keringat yang terkuras, capek yang menyelimuti, dan kerja keras.
Setelah project tersebut rampung, kami segera beranjak untuk kembali ke rumah Diana. Yang gue rasa pasti haus ... dan lapar. Maka gue bersama teman-teman lain dijamu oleh hidangan masakan khas rumah pada umumnya. Kesempatan kayak gini gak pernah gue tolak, karena menolak hidangan makanan gratis dari sang empu rumah adalah perbuatan tercela, kata gue. Waktu itu memang hidangannya gak terlalu istimewa, namun keistimewaan hidangan tersebut terletak pada sambelnya yang melimpah ruah, dan terutama ‘boleh nambah’. Jeng jeng jeng! Pucuk di cinta ulam pun tiba.
Kontan saja mata ini menjalar kesana-kemari, mencari celah untuk menggapai piring. Meskipun ketika piring sudah digapai gue masih tetap jaim (jaga image). Ketika piring pertama, makan pelan-pelan, piring pertama habis, gue nambah. Ketika piring kedua itulah terlihat gue makan rakus sekali seperti anak genderuwo yang ditelantarkan oleh induknya. Makan secara biadab nggak cuma gue, ada Gifari gembul yang juga makannya kayak orang kesurupan. Gue berpikiran “Wah kampret si Gifari nambah juga, mentang-mentang di rumah calon mertua.” Jujur, gue makan nikmat pada saat itu adalah sambelnya yang memang ‘wuenak’ dan ‘nampol’.
Apalagi, Diana juga sepertinya gak masalah kalau gue nambah agak banyak, atau memang Diana sengaja menutupi kekesalannya? bodo amat, yang penting gue kenyang. Akhir-akhir ini Diana gue perhatikan di BBM (Blackberry Messenger) sedang berbisnis jual beli online, terutama aneka hijab yang bernama diar hijab di samping kesibukannya kuliah di LP3I Depok.
14.  Dwi Riyanti Ihzan
Ranti (sapaan akrab) ialah sahabat sekaligus partnership Diana Fadira saat SMK. Seperti sudah dijelaskan di atas, Ranti sama Diana selalu bersama laksana dua lesbi, tidak jauh berbeda seperti Dhika dan Gifari laksana dua homo. Ranti pernah menjalin hubungan dengan Kak Riski, kakak kelas sekaligus ketua OSIS yang berbadan tambun, tinggi, sedikit gelap, dan memakai kacamata saat kami baru masuk SMK. Ranti ini menurut gue adalah cewek yang pemikirannya paling dewasa di antara teman-teman cewek lain di kelas M2M.
Ranti dan Gifari didaulat sebagai murid Terpede. Sumber: foto angket kelas M2M
Meskipun postur serta tinggi badannya memang agak kecil, namun pola pikirnya bisa dibilang cukup bijak. Gue sendiri jarang main atau ngumpul bareng Ranti, jadi gak terlalu tahu mengenai kehidupan pribadinya. Pastinya Ranti gak jauh berbeda sama Diana Fadira, pintar di bidang matematika, ‘berlemak’, agak pendek, dan sama-sama cewek.
15.  Fadel Muhammad
Memiliki dagu lancip seperti Aburizal Bakrie, rambut berjambul runcing seperti badak bercula satu, dan postur tubuhnya tinggi. Ciri-ciri tersebut menggambarkan seorang Fadel. Gue salut kepadanya karena dari kelas 1 SMK sampai lulus tatanan rambutnya tidak pernah bergonti-ganti. Karena jika rambutnya dikebawahkan akan terlihat seperti adiknya, yang memang sangat mirip sekali dengan Fadel, bagaikan pinang dibelah dua.
Fadel dan Indri didapuk sebagai murid Terdewasa. Sumber: foto angket kelas M2M
Selain ciri-ciri di atas, motor mio kilikan adalah kendaraannya yang selalu ia bawa ke sekolah. Disertai dengan suara knalpot rombeng dan mesin yang terlihat di bawah jok. Jok motornya dibuat menungging, tanpa selop pijakan kaki. Mungkin sengaja buat bonceng cewek supaya nungging, dada nempel ke punggung, dan kaki ngangkang. Oh iya, Fadel dan gue kebetulan sama-sama lahir pada tanggal 2 Agustus, tapi beda tahun. Fadel tahun 1995 dan gue tahun 1994. Tua’an gue tetap.Fadel sekomplotan sama Alif Kurniasyah cs, karena di kelas ia paling dekat dengan Alif. Mungkin gue benar-benar mengenali sosok Fadel ketika hari-hari pertama masuk SMK.
Pada saat interview pendaftaran masuk SMK dimulai, gue beserta Nyokap duduk menunggu dipanggil oleh Pak Jali di aula gedung SMK PKP 1, letaknya tidak jauh dari ruang guru. Kala itu ada lumayan banyak orangtua-calon murid yang juga sama sedang menunggu untuk dipanggil interview. Gue masih ingat, tepat di samping kiri Nyokap ada calon murid perempuan yaitu Noviyanti Lestari (kelas Akuntansi) ditemani oleh Nyokapnya. Mereka mengobrol kesana-kemari, namanya juga perempuan pasti doyan bicara, sedangkan gue cuma diam sembari mata melirik menjelajahi setiap sudut ruangan.
Ketika pandangan ini tertuju ke arah kiri, lebih tepatnya di samping kiri pojok, terlihatlah gadis cantik, putih, mungil dengan bibir begitu kuncup, dan memakai kerudung putih. Gadis itu bersama Bokapnya yang duduk di depannya. Pada saat itu juga gue langsung terkesima diiringi degupan jantung begitu cepat yang menyebabkan nafas megap-megap. Gue berasumsi bahwa di setiap tempat kejadian yang pernah gue alami ada saja perempuan cantik yang membuat gue kalang kabut penuh rasa penasaran yang berakhir untuk segera mencetuskan: Siapa sih namanya? Gue terus memandangnya dengan tatapan sayu khas ‘anak mami’ sambil menunggu giliran untuk dipanggil ke depan. Memandang tak jemu yang terlihat hanya hidung, dagu, dan bibir kuncupnya yang begitu menawan, berharap gadis tersebut menoleh ke arah gue dengan tatapan ‘nakal’, eh tatapan ‘sejuk’ maksud gue. Setelah sekian lama gue memandangnya, finally gue dipanggil juga ke depan untuk interview.
Di depan gue ditanya bermacam-macam, salah satunya, “Punya laptop, gak?” Gue jawab sekenanya, “Punya.” Padahal gak punya, biar cepat dan gak berbelit-belit. Gue cuma manggut-manggut sambil megang sapu tangan, karena cuaca kala itu memang lumayan panas. Selesai diberondong sekelumit pertanyaan yang gue juga gak terlalu paham, gadis cantik itu lenyap, meninggalkan sebuah aura ‘sejuk’ yang sampai sekarang apabila gue melewati bekas aula SMK PKP 1, maka gue langsung teringat kejadian tersebut.
Hari bergulir, tibalah sesi pemotretan para calon murid untuk berpose nakal. Bercanda. Pemotretan untuk sebuah kartu identitas murid di sekolah PKP. Asyik! akhirnya jadi murid SMK juga, "SMK bisa!" Biar kayak iklan. Gue duduk-duduk bersama teman lain menunggu di koridor luar, lebih tepatnya di samping air (butek) mancur. Secara mengejutkan gadis cantik itu juga sedang menunggu sesi pemotretan. Namun sangat disayangkan, gue dan dia beda kelas. Apalah arti cinta toh akhirnya dipisahkan oleh kelas. Secemen-cemennya gue cuma satu, gak berani ngajak kenalan cewek, dan juga ulat bulu. Gue hanya menatapnya dalam, begitu lama sampai-sampai secara tidak sadar bibir ini menyungging senyuman ‘aku suka kamu’.
Secara bersamaan juga gue melihat salah satu murid ‘berjambul’ sedang mengotak-ngatik handphone dibarengi dengan curi-curi pandang khas ‘anak remaja masa kini’. Gue amati murid berjambul itu, ternyata dia menatap ke arah yang gue tatap, si gadis cantik. Plak. Rasanya seperti ditampar sirip ikan hiu, gue punya saingan. Gue cermati gerak-gerik murid berjambul itu, kadang ia mengetik hpnya, lalu menoleh ke gadis cantik, lalu mengetik lagi, begitu terus berulang-ulang. Lalu gue amati si gadis cantik, dia pun sama, mengetik hpnya, senyum-senyum, mengetik lagi, senyum-senyum lagi.
Gue sudah bisa menebak bahwa mereka sepertinya sedang ‘smsan’. Murid berjambul tajam itu rupanya sedang menerapkan taktik PDKT (pendekatan), dan si gadis cantik tersebut menerimanya dengan jumawa. Tiba-tiba terbersit di otak gue untuk membanding-bandingkan gue sama murid ‘berjambul’ (Fadel). Dilihat dari fisik, gue kalah tinggi sama Fadel, apalagi katanya, gak tahu kata siapa ini juga, cewek suka sama cowok tinggi. Hati gue ‘nyess’. Kedua, Fadel selalu membawa motor kesayangannya ke sekolah, ini berarti kesempatan dia untuk mendapatkan gadis cantik terbuka lebar, apalagi katanya, lagi-lagi gak tahu kata siapa, cewek akan senang diajak ‘jalan’ naik motor, di lain pihak gue diajak pulang bareng tukang ojek. Hati gue ‘nyess’. Ketiga, relasi pergaulan Fadel bisa dibilang cukup baik, ia kenal dengan beberapa murid kelas sebelah, jadi kesempatan untuk mendapatkan hati gadis cantik semakin terbuka lebar.
Sedangkan gue, baru kenal dengan segelintir murid, itu pun gak banyak, relasi gue bisa dibilang ‘kuper’ (kurang pergaulan). Bahkan saat sedang mengobrol tanggapan gue cuma:
“Oh...”, “Iya iya.”, “Oh begitu.”, dan “Ho-oh ho-oh”. Lagi-lagi hati gue ‘nyess’. Setelah berpikiran seperti itu, maka niatan untuk ‘mengenali’ si gadis cantik sirna sudah. Gue dikalahkan oleh pemikiran-pemikiran gue sendiri, mereka seakan-akan mengontrol diri gue. Kala itu gue merasa cupu, cemen, dan pecundang. ‘Nyeeessss...’ Minggu terus bergulir barulah gue tahu siapa nama dibalik bibir kuncup gadis cantik, itu pun gue tahu berdasarkan hasil ‘nguping’, taktik jitu emak-emak kompleks kepo terhadap tetangga saat membeli sayuran. Mutiara Sudirman (MM1), ialah nama inisial ‘gadis cantik’ tersebut.
Beberapa tahun kemudian rasa ‘aku suka kamu’ perlahan sirna di hati. Fadel yang gue kira bakal jadian sama Mutiara, malah jadian sama kakak kelas bernama Mega Catur Jiwa, anggota tim volly putri. Sedangkan Mutiara berhubungan sama murid PKP lain, bukan murid SMK PKP 1. Di pihak lain, yaitu gue, masih ‘NYEEESSSS...’.
Tugas akhir Fadel dan gue sekelompok, bersama Mayang, Aby, dan Rose Wantini Cholifah (lihat no 31). Fadel ditugaskan sebagai aktor utama, walaupun ketika filmnya rampung aktor utama berubah menjadi Aby. Ia berperan sebagai gembong narkoba kelas kakap. Awalnya gue agak ragu Fadel bisa acting apa nggak, karena biasanya orang-orang yang akrab berhubungan dengan perbengkelan semacam Fadel sukar untuk acting di depan kamera (teori macam apa ini). Ternyata dugaan gue keliru, Fadel acting luar biasa keren, dari mimik muka ‘dapet’ walaupun ada beberapa kalimat yang mengundang tawa.
Gue memuji setiap action-nya di semua adegan, gak semua orang yang berlatar belakang bukan ‘perfilman’ bisa acting sebaik Fadel. Fadel menghilang entah kemana saat beberapa adegan terakhir di tugas akhir sekolah. Ditelepon gak diangkat, di-sms gak dibalas, di-bbm gue di-delcont. Pendapat gue Fadel bersikap demikian karena sudah jenuh. Karena memang pada saat itu kelompok kami kebanyakan duduk-duduk daripada bergerak. Mungkin hal itulah yang membuat Fadel enggan bekerjasama. Di akhir adegan juga Fadel diganti dengan pandangan ‘kamera’.
Jadi, seakan-akan kamera adalah pandangan Fadel. Begitulah trik kami untuk memanipulasi suatu masalah. Tak ada rotan akar pun jadi. Tapi yang pasti gue sangat berterima kasih kepada Fadel atas partisipasinya di dunia ‘perfilman pendek’. Sangat mengesankan.


Catatan:
1.      Mohon maaf bila ada yang tersinggung.
2.      Mohon maaf bila dialog tidak sesuai aslinya, karena cerita di atas sudah 3-4-5 tahun lalu.
3.      Nama guru sengaja disamarkan.
4.      Tunggu update selanjutnya, hanya di tintakahyangan.blogspot.com.

Komentar